Momentum News – Di sebuah sudut kota Blora, tepatnya di Jalan Sumbawa, terdapat sebuah narasi hidup yang menampar kesombongan dunia modern. Di sana, seorang pria tua dengan langkah tenang memunguti barang bekas. Bagi orang asing, ia mungkin hanya seorang pemulung. Namun bagi sejarah dan literasi, ia adalah Dr. Soesilo Toer, seorang intelektual lulusan University Patrice Lumumba, Rusia, yang memilih jalan hidup “ngasor” (merendah).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Filosofi Jawa “Dongo Dinongo, Andum Slamet” (Saling mendoakan dan berbagi keselamatan) bukan sekadar jargon bagi keluarga Toer. Ia adalah laku hidup yang dipraktikkan sehari-hari melalui meja makan yang terbuka bagi siapa saja dan perpustakaan Pataba yang menjadi oase ilmu.

Intelektualitas dalam Kesederhanaan

Kisah Soesilo Toer dan mendiang saudaranya, Koesalah Soebagyo Toer, adalah anomali di tengah bangsa yang sering kali mendewakan gelar dan jabatan. Bayangkan, seorang Doktor filsafat yang menguasai bahasa Rusia, Inggris, Belanda, hingga Jerman, tidak merasa hina saat tangan jemarinya bersentuhan dengan sampah.

Bagi Soesilo, memulung adalah bentuk kemandirian ekonomi sekaligus kejujuran. Ia mengelola warisan intelektual kakaknya, Pramoedya Ananta Toer, bukan dengan kemegahan korporasi, melainkan dengan semangat kerakyatan. Di Pataba, buku-buku tidak hanya disimpan, tetapi dihidupkan lewat diskusi sambil makan dan minum bersama.

“Makan dan minum bersama bukan soal menu yang tersaji, tapi soal kedaulatan jiwa. Di sana ada doa yang saling bertaut, ada keselamatan yang dibagi rata tanpa melihat kasta intelektual.”

Pesan untuk Masa Depan

Apa yang bisa kita petik dari figur Soesilo Toer?

  1. Kejujuran adalah Harga Mati: Lebih baik hidup dari keringat sendiri sebagai pemulung daripada menjual integritas demi posisi.

  2. Literasi untuk Rakyat: Ilmu pengetahuan (lewat Pataba) harus bisa diakses oleh siapa saja, sebagaimana udara dan air.

  3. Kemanusiaan yang Adil: Konsep Andum Slamet mengajarkan bahwa kesejahteraan spiritual hanya bisa dicapai jika kita peduli pada sesama.

Melalui YLBH SAMIN SAMI AJI, kita melihat bahwa apa yang dilakukan Soesilo Toer adalah bentuk pembelaan terhadap hak asasi manusia yang paling dasar: hak untuk menjadi diri sendiri dan hak untuk tetap bermanfaat bagi orang lain meski dalam kesederhanaan yang ekstrem.

Mari kita belajar dari meja makan Pataba. Bahwa di balik setiap teguk air dan suap nasi yang kita nikmati bersama, ada tanggung jawab moral untuk saling menjaga, saling mendoakan, dan memastikan keselamatan bagi sesama makhluk Tuhan.


Oleh: Ch. Harno (Ketua YLBH SAMIN SAMI AJI)