MOMENTUM NEWS – BLORA, Wajah pusat kota Blora mendadak berubah menjadi panggung protes terbuka. Aksi vandalisme bernada gugatan terpampang nyata di sejumlah sudut strategis kota dengan tulisan mencolok: “USUT TUNTAS JUAL BELI DAKEL OLEH OKNUM LURAH.” Coretan ini bukan sekadar pengrusakan fasilitas umum, melainkan sebuah alarm keras atas dugaan praktik lancung di tubuh birokrasi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Aktivis lokal, Lilik Prayogo, menegaskan bahwa munculnya tulisan tersebut adalah puncak gunung es dari kemarahan publik yang selama ini tersumbat. Menurutnya, aksi ini merupakan bentuk protes keras terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora yang dinilai seolah-olah “tutup mata” terhadap praktik kotor dalam pengelolaan Dana Kelurahan (Dakel).

Dugaan Pungli 10 Persen: “Ini Korupsi Nyata!”

Lilik membeberkan fakta mengejutkan terkait adanya dugaan “setoran” atau pemotongan dana yang mencapai angka 10 persen. Ia menyebut praktik ini sudah mengarah pada tindakan pungutan liar (pungli) dan korupsi yang terstruktur.

“Aksi (vandalisme) ini adalah bahasa rakyat yang sudah muak. Kami melihat ada indikasi kuat jual beli Dakel oleh oknum Lurah dengan potongan hingga 10 persen. Ini jelas pungli! Ini korupsi! Tapi kenapa Pemkab diam seribu bahasa?” ujar Lilik dengan nada tinggi saat dikonfirmasi, Minggu (05/04).

Kritik Pedas untuk Pemkab Blora

Lilik menilai, sikap diamnya otoritas pengawas dan pimpinan daerah menunjukkan adanya pembiaran yang sistematis. Ia mendesak agar aparat penegak hukum tidak menunggu laporan formal jika bukti di lapangan sudah menjadi konsumsi publik melalui keresahan warga.

“Jangan salahkan dinding yang bicara kalau ruang dialog sudah tertutup dan keadilan dikangkangi. Jika Pemkab terus-menerus membiarkan praktik korupsi di lingkup kelurahan ini tumbuh subur, maka jangan kaget jika gelombang protes akan semakin liar dan besar,” pungkas Lilik.

Hingga berita ini diturunkan, coretan-coretan provokatif tersebut masih menjadi pusat perhatian warga yang melintas di area Blora Kota, menjadi pengingat bisu bahwa ada “borok” birokrasi yang menuntut untuk segera dibersihkan.