Momentum News – Sejarah mengajarkan kita satu pelajaran pahit: runtuhnya sebuah tatanan masyarakat bukan selalu disebabkan oleh banyaknya orang jahat, melainkan karena diamnya orang-orang baik. Lebih spesifik lagi, diamnya kaum terdidik.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Hari ini, kita dihadapkan pada sebuah fenomena yang mengkhawatirkan. Ruang publik kita riuh, namun sepi dari akal sehat. Ketika para intelektual, akademisi, praktisi hukum, dan mereka yang memiliki privilese pengetahuan memilih untuk menutup mata dan telinga, maka kekosongan itu akan segera diisi. Siapa pengisinya? Ketidaktahuan, kedangkalan, dan kepentingan sempit.

Saat kaum terdidik memilih “cari aman”, maka panggung kebijakan diambil alih oleh mediokritas. Akibatnya fatal: Kebodohan dinormalisasi menjadi kebijakan negara. Keputusan-keputusan publik tidak lagi didasarkan pada kebenaran objektif atau rasa keadilan, melainkan pada siapa yang paling keras berteriak atau siapa yang memegang kuasa, tanpa peduli landasan logikanya.

Situasi ini membawa kita pada sebuah persimpangan jalan yang krusial.

Ketika Kebenaran Dibungkam

Saat fakta diputarbalikan dan nurani dikesampingkan, situasi tidak lagi abu-abu. Pilihannya menjadi sangat biner dan personal. Pertanyaan ini bukan untuk orang lain, tapi untuk diri kita sendiri, tepat di depan cermin:

“Saat kebenaran dibungkam, kamu memilih diam atau berdiri?”

Memilih diam adalah pilihan yang logis untuk bertahan hidup. Ia menawarkan rasa aman, kenyamanan, dan jauh dari risiko dikucilkan atau diserang. Itu adalah naluri dasar manusia untuk melindungi diri dan asetnya.

Memilih berdiri dan bersuara adalah jalan sunyi. Ia penuh risiko, kerap kali menyakitkan, dan membutuhkan keberanian yang melampaui kalkulasi untung-rugi materi.

Itulah Dirimu

Namun, esensi dari opini ini bukanlah untuk menghakimi pilihan Anda.

Pilihlah apapun, engkau tidak salah.

Jika engkau memilih diam, itu hak asasi untuk merasa aman.

Jika engkau memilih berdiri, itu adalah panggilan jiwa.

Hanya saja, perlu diingat satu hal: Pilihanmu mendefinisikan siapa engkau sebenarnya.

Jika engkau diam saat melihat ketidakadilan di depan mata, maka engkau adalah pengamat yang pragmatis. Jika engkau berdiri melawan arus demi sebuah nilai, maka engkau adalah pejuang idealis.

Pada akhirnya, jabatan, gelar akademik, atau status sosial hanyalah atribut tempelan. Pilihanmu di saat kritis itulah identitas aslimu.

Maka, pilihlah dengan sadar. Karena di akhir hari, sejarah tidak akan bertanya apa jabatanmu, tapi di mana posisimu saat kebenaran sedang diuji.


Oleh: Ch Harno

(Ketua YLBH Samin Sami Aji – SSA)